Cerita dari toko
"Aku tidak suka membaca buku. Aku tidak bisa seperti mereka.", batinnya kala ia duduk di bangku MTs.
Hampir setiap hari pemandangan bertukar buku bacaan terekam oleh matanya. Sesekali ia melirik sampul buku di meja-meja, membaca judulnya tidak membuatnya tertarik, melihat ketebalan bukunya apalagi. "Ah sudahlah, aku ga suka reading for pleasure. Membaca buku pelajaran sudah cukup. Aku lebih suka nonton.", klaimnya.
Rak buku di rumahnya hampir penuh dengan buku, tapi tak ada yang benar-benar ia baca for pleasure. Pikirnya baca buku itu ya supaya bisa survive di sekolah saja, getting a good grades that's enough. Ia belum sadar bahwa hobi membaca merupakan salah satu faktor yang membuat teman-temannya lebih unggul darinya. Public speaking? Oke. Menulis dan merangkai kata? Oke. Belajar materi baru? juga Oke, mereka cepat pahamnya.
Sewindu berlalu, ia lulus dari bangku perkuliahan. Suatu hari adiknya membeli buku yang berjudul "The Other Half of Beauty". Awalnya ia meremehkan, namun saat membaca tulisan di sampul belakang membuatnya berani membuka isi bukunya. Perlahan ia tenggelam dalam rangkaian kata penulis. "Bukunya ku pinjam ya.", pintanya pada sang adik. Padahal adiknya belum juga mulai baca, udah diduluin.
Sekitar dua atau tiga hari kemudian, ia menamatkannya. Hari-hari yang berlalu ia isi dengan penyelaman ke dalam lautan ilmu. Gerbong kata yang ia lihat terasa begitu dekat dengan dirinya, layaknya seorang kawan lama yang setia menemani. Di saat itu, ia memutuskan hobi barunya ialah membaca buku.
Ia tidak pernah meminta kepada Allah agar dikaruniakan hobi membaca buku. Namun Allah memberinya dari arah yang tidak pernah ia duga. "Alhamdulillah", kalimat syukur yang terucap kala ia mengenangnya lagi.